Thursday, March 09, 2006

Tetagenan - Acepan

Memen tiange sempat nuturin kurenan tiange saat pulang kampung beberapa bulan yang lalu. "Ning, cening jangan membiasakan diri dengan ngikutin cara meme mebanten ya!”
”Jejemak memene sudah terlanjur gede. Meme selalu merasa kurang mantap jika hanya ngaturang canang atanding. Rasanya ada saja yang kurang, makanya untuk aturan sehari-hari, meme ngaturang canang angkep ditambah lak-lak tape. Nanti, di rantau, cening cukup ngaturang canang plekosan aja (sesajen yang dibuat dari daun pisang trus diisi kembang secukupnya), yang penting TETAGENAN lan ACEPAN ceninge seken tur tulus"

Tiang terharu mendengar nasihat I Meme kepada anak mantunya yang tidak bisa nanding banten itu.
Sepertinya Meme telah melalui jalan yang panjang sehingga sampai pada titik dimana beliau harus "mengkritisi" kembali kebiasaan-kebiasaan yang beliau lakoni.

Sebuah titik dimana "kekinian" (ketersediaan waktu, usia, kesehatan, kondisi sosial ekonomi dll) di satu sisi dan "emosi" keagaamaan yang tumbuh karena "pembisaan" di sisi lainnya berdialog tentang hakekat Ritual.

Sebuah dialog bathin yang sudah barang tentu tak lepas dari persoalan susah tidaknya beragama (hindu).

Dari pesan I Meme, tiang dituntun pada satu pencarian tentang hal pokok yang mendasari kenapa perlu adanya "Ritual" agama, yang kira-kira tak lain dari upaya menjaga "Antusiasme hidup", disamping juga untuk sebuah process pembelajaran terhadap nilai-nilai agama.

Tetagenan dalam bahasa i meme, adalah "Antusiasme Hidup" dan Acepan adalah visi keagamaan yang pada akhirnya identik dengan "Nilai Agama". Keduanya bisa dicapai dengan process atau cara kita masing-masing. Susah mudahnya, sangat relatif. Yang perlu kita waspadai, jangan sampe kita "terbelengu" pada cara yang terlanjur melembaga tanpa pernah menemukan hakekat ritual itu sendiri.

Ya ...., seperti petuah I Meme ;
Jangan sampai kita Terbelengu .....
dari satu rangkaian Galungan ke rangkaian Galungan berikutnya,
dari satu rangkaian Saraswati ke rangkaian Saraswati berikutnya,
dari satu rangkaian Nyepi ke rangkaian Nyepi berikutnya,
dari satu rangkaian Caru ke rangkaian Caru lainnya
Tanpa pernah menjadi Antusias karena-nya
Tanpa pernah menjadi Berdaya sesudahnya,
Tanpa pernah menjadi Cerdas darinya,
bahkan menjadi semakin Primitif dan Takut memperbaharui.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home