Thursday, March 16, 2006

CARU

Di Bali, Caru yang belakangan ini dipertanyakan, atau bahkan digugat, sepertinya cukup menggambarkan betapa sesungguhnya transformasi sosio kultural masyarakat Hindu Bali tidak berjalan secara seimbang. Pergeseran masyarakat Hindu Bali dari mistis-tadisionil (manusia tunduk sepenuhnya pada alam), ke masyarakat Ontologis (masyarakat yang mulai kritis terhadap alam) dan akhirnya ke masyarakat Fungsional (masyarakat dimana manusianya secara tegas menjadi subject), terjadi sedemikan cepatnya. Masyarakat Hindu Bali secara material melesat oleh Industrialisasi Pariwisata yang memanfaatkan kemeriahan bentuk kebudayaannya, sementara di sisi lain, nilai-nilai Hindu sebagai roh yang dikemas dalam berbagai bentuk kebudayaan itu tidak cukup mendapatkan penguataan baik oleh negara maupun oleh kekuatan masyarakatnya sendiri.

Secara Ideal, masyarakat Hindu Bali seharusnya selalu memegang "Nilai" dari kebudayaan dan mengimprovisasi "kemasan"-nya sehingga tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan sosio kultural.

Barangkali Bali kini, tidak perlu menggugat masa lalu, apa lagi bermimpi menghadirkan "Empu Lutuk" sekadar untuk mengklarifikasi tentang caru misalnya, kalau saja transformasi sepenuhnya berjalan sebagai sebuah pilihan sadar, bukan keterhanyutan dalam arus kebudayaan Global yang semakin Materialis.

Caru, sebagai salah satu bentuk yang digugat, mestinya dapat dipahami dengan pemaknaan kisah-kisah dalam Mahabaratha dimana "Kesadaran" adalah hal pokok yang membebaskan Arjuna ketika dia melakukan apa saja ditengah medan Kuru Ksetra. Setelah Sri Kresna berujar "Wahai Arjuna, lakukanlah segala sesuatu (dharmamu) sebagai persembahan kepada-Ku", maka Arjuna tidak lagi bingung oleh "kemasan" maupun "hasil" perbuatannya. Sepanjang dia melakukannya dalam Kesadaran Krisna (Tuhan), maka itu adalah sebuah Yadanya, sebuah upaya mencapai pembebasan.

Memotret "Pembunuhan terhadap Guru" yang dilakukan oleh Arjuna dengan kesadaran kita saat ini (yang sedemikan terkontaminasi oleh kepentingan), tentu tidak akan pernah sama dengan potret pembunuhan itu oleh "kesadaran" arjuna.

Saya kira, begitu pula tentang "Caru" yang dipahami Empu Lutuk dan "Caru" yang kita pahami saat ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home